Pendakian Gunung Merapi via new Selo Merapi tak pernah ingkar janji merbabu view
Indonesia, Travel Story

Merapi dan Rindu yang Menjadi (Bagian 2)

Pendakian Gunung Merapi via New Selo Merapi tak pernah ingkar janji
Mimpi mengunjungi Merapi

Sebelum melanjutkan cerita dari tulisan Merapi dan Rindu yang Menjadi (Bagian 1) saya ingin bercerita tentang mimpi dan rindu yang pernah saya rasakan sebelum mengunjungi Merapi. Agustus 2017 saya melakukan pendakian ke Gunung Merbabu lewat Selo. Di saat perjalanan menuju ke Sabana 2, saya melihat betapa indah dan gagahnya Gunung Merapi di sebelah sana. Sejak saat ini, aku berkeinginan dalam hati bahwa suatu saat akan mengunjungi Gunung Merapi. Dan pada bulan Februari 2018 , mimpi dan rindu itu menjadi nyata.

Melanjutkan cerita di Bagian 1, setelah selesai makan malam, sholat, kami semua bersepakat untuk segera tidur karena esok pagi kita akan melanjutkan perjalanan ke Pasar Bubrah dan summit attack ke Puncak Garuda. Pukul 19.00 , hujan masih belum mau berpaling dari kami, sementara kami semua sudah berada di sleeping bag nya masing-masing. Berharap bisa tidur cepat, namun ada satu teman saya, Fauzi namanya, yang tidak bisa dengan begitu saja tidur. Dia minta ditemani berbincang sebelum tidur, mungkin waktu kecilnya dia sering dibacakan dongeng sebelum tidur, hehe. Ada juga perdebatan antara menyalakan atau mematikan lampu tenda sebelum kami tidur.

Satu jam berlalu, akhirnya kami semua tidur dengan kondisi lampu dinyalakan remang-remang. Entah mengapa saya bingung jika sedang tidur di gunung, waktu terasa lama sekali. Jujur saja, sudah berapa kali saya berganti mimpi dan terbangun dari tidur namun kondisi masih saja gelap. Saya merasa tidur saya tidak pulas, berulang kali mendengar suara pendaki lain yang berjalan di sisi tenda kami, ada juga yang berteduh di dekat tenda kami. Dan juga karena kondisi tenda yang ternyata kemasukan air, karena hujan terus menerus hingga ada pendaki lain yang membuang air bekas masakan ke arah tenda kami yang akhirnya merembes ke dalam tenda. Setelah berulang kali terbangun, saya melihat jam di gawai sudah menunjukkan pukul 4 dinihari, lalu saya membangunkan teman saya, Rico untuk melihat kondisi di luar apakah masih hujan atau langit terang benderang. Dengan rasa yang masih malas bangun, akhirnya dia membuka pintu tenda dan segera melihat ke langit. Kemudian dia berteriak girang ke dalam tenda, “bintangnya banyak banget bro” . Sontak saya dan Fauzi benar-benar terbangun dari tidur. Sementar temanku satu lagi, Fadil masih saja enggan pergi dari alam mimpi.  Saya segera menyiapkan kamera dan tripod yang memang sengaja saya bawa dengan tujuan untuk memotret milkyway saat malam nanti. Awalnya Fauzi masih malas keluar karena dia termasuk orang yang tidak tahan dingin, namun setelah saya dan Rico yakini dia kalo memang langit pada malam itu sangat cantik sekali, dia pun bergegas keluar tenda. Setelah saya pasang dan atur kamera , satu persatu teman saya ingin jadi model dengan latar belakang milkyway. Rencana kami sebelumnya ingin melakukan summit attack pukul 4 dinihari, namun karena melihat cantiknya langit malam itu, kami memutuskan untuk melakukannya saat matahari sudah terbit nanti. Makin lama, bintang pun semakin hilang dan segera berganti sunrise . Momen matahari terbit adalah salah satu momen yang sangat ditunggu oleh para pendaki.

Pendakian gunung merapi via new selo merapi tak pernah ingkar janji milkyway
Milkyway Gunung Merapi
Pendakian gunung merapi via new selo merapi tak pernah ingkar janji milkyway
Sunrise di Gunung Merapi (Dok : @azizcpc05)

Setelah kami puas menikmati milkyway dan sunrise, kami segera bersiap-siap untuk menuju Pasar Bubrah dan tentunya menuju ke Puncak Garuda. Jika ada teman-teman bertanya, Mengapa dinamakan Pasar Bubrah? Memang ada pasar di atas gunung? saya coba sedikit tulis apa yang saya tahu tentang Pasar Bubrah. Berdasarkan cerita warga sana, Tempat ini merupakan pasarnya para makhluk halus, yang dapat dilihat pada setiap malam Jum’at. Pada saat itu, jangan heran bila akan terdengar keramaian layaknya sebuah pasar malam di puncak gunung ini. Saat berkemah di malam hari , ada dua orang teman perempuan saya mendengar suara gamelan dan gending jawa yang cukup keras dan terasa sangat dekat. Saya sendiri tidak mendengar suara itu saat berkemah waktu itu. Jarak perjalanan dari lokasi berkemah ke Pasar Bubrah sekitar 700 meter, bisa ditempuh dengan waktu 45 menit. Masih dengan kontur pasir, menanjak dan berbatu kami meneruskan perjalanan, namun kami sempat berhenti sebentar untuk mengambil foto dengan latar belakang Gunung Merbabu yang menyapa kami pagi itu.

Pendakian Gunung Merapi via new Selo Merapi tak pernah ingkar janji merbabu view
Merbabu View dari Merapi

Akhirnya sampai juga di Pasar Bubrah, kata saya waktu terlihat tulisan Pasar Bubrah yang tertera pada sebuah tiang kayu. Berfoto di depan tulisan Pasar Bubrah tampaknya sudah menjadi kewajiban semua pendaki yang mendaki Gunung Merapi. Ramai sekali pendaki yang mengantre untuk berfoto di depan tulisan itu. Kami pun tidak ketinggalan untuk berfoto di depan tulisan itu. Sekitar 15 menit di Pasar Bubrah, kami melanjutkan perjalanan ke puncak Garuda. Sebenarnya, batas pendakian yang masih termasuk asuransi hanya sampai Pasar Bubrah, namun melihat banyak orang yang tetap naik ke puncak Garuda, kami pun ikut naik juga.

Setelah Pasar Bubrah, kami disambut jalanan pasir yang menurun. Kami memilih jalur ke sebelah kiri dimana terlihat banyak pendaki yang naik melalui jalan itu. Jalur menuju puncak Garuda memiliki kemiringan sekitar 45 derajat. Medan nya berupa pasir dan berbatu. Kata teman saya, tempat ini cocok untuk latihan sebelum mendaki puncak Mahameru di gunung Semeru. Kami berjalan lancar, sebelum bertemu dengan jalur yang mulai menanjak, tiap 5 langkah kaki akan turun 2 langkah kaki. Bayangkan betapa sulitnya untuk mencapai puncak, saya sendiri beberapa langkah berhenti untuk mengatur nafas. Kemudian melanjutkan lagi perlahan namun pasti, saya menyalakan lagu menggunakan speaker bluetooth untuk menemani jalan saya mendaki puncak. Beberapa pendaki yang turun dari atas puncak memberi saya semangat agar tetap melanjutkan langkah. Setelah 1.5 jam perjalanan, akhirnya saya sampai di puncak Garuda, saya termasuk yang telat sampai di puncak karena saya sering berhenti di tengah perjalanan untuk memotret beberapa momen.

Pendakian Gunung Merapi via new Selo Merapi tak pernah ingkar janji merbabu view
Kemiringan Jalur menuju Puncak
Pendakian Gunung Merapi via new Selo Merapi tak pernah ingkar janji Puncak Garuda
Jalur Pasir dan Berbatu Menuju Puncak Garuda
Pendakian Gunung Merapi via new Selo Merapi tak pernah ingkar janji Puncak Garuda Jawa Tengah
Berfoto di Puncak Garuda
Pendakian Gunung Merapi via new Selo Merapi tak pernah ingkar janji puncak garuda koper
Puncak Garuda saat Berkabut

Saat sampai di puncak Garuda, kami di sambut oleh kabut tebal, jadi kami harus bersabar untuk bergantian mengabadikan momen. Sekitar 30 menit kami berada di puncak Garuda, kami segera turun kembali ke camp untuk menyantap makanan yang sudah disiapkan oleh panitia. Saat dalam perjalanan turun, ada beberapa teman saya yang turun dengan merosot. Hal ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati karena jika terpleset sedikit saja bisa membuat memar pada tubuh. Perjalanan turun lebih cepat 45 menit daripada menanjak. Setelah kenyang menyantap makanan, kami bergegas untuk packing semua peralatan dan mengumpulkan sampah untuk dibawa ke basecamp awal pendakian. Pukul 12.00 kami memulai perjalanan turun, saat perjalanan turun kembali ditemani oleh rintik hujan. Ketika turun, saya mengalami sakit kepala dan kaki sedikit terkilir sehingga tas carriel saya dibawa oleh teman saya. Jalan saya sangat lambat karena kondisi tubuh yang tidak fit saat itu. Jam 3 sore akhirnya kami sampai di basecamp New Selo, dan langsung menaiki truk menuju ke basecamp Gancik untuk bersih-bersih dan mengambil beberapa barang yang dititipkan. Jam 4 kami segera berangkat menuju stasiun Solo Jebres untuk kemudian dilanjutkan perjalanan kereta Brantas pukul 18.35 menuju Stasiun Pasar Senen, Jatinegara.

Pendakian Gunung Merapi via new Selo Merapi tak pernah ingkar janji puncak garuda koper
Sarapan di Gunung Merapi
Pendakian Gunung Merapi via new Selo Merapi tak pernah ingkar janji senja Stasiun Solo Jebres
Senja di Stasiun Solo Jebres

Jam 17.35 kami sampai di Stasiun Solo Jebres, kami melakukan beberapa kegiatan, ada yang mengumpulkan tas carriel , ada yang membeli makanan untuk bekal di kereta nanti, sementara saya menangkap senja yang muncul di sudut stasiun itu. Sayang sekali jika dilewatkan begitu saja. Pukul 18.00 kami mulai memasuki kereta dan menaruh barang-barang di tempat penyimpanan. Kereta berjalan dan kami mulai berbincang tentang pengalaman seru yang terjadi saat pendakian yang baru saja kami lakukan. Singkat cerita tibalah kami di stasiun akhir perjalanan, sampai jumpa di perjalanan berikutnya.

Iklan
Pendakian Gunung Merapi via new Selo Merapi tak pernah ingkar janji merbabu view
Indonesia, Travel Story

Merapi dan Rindu yang Menjadi (Bagian 1)

Pendakian Gunung Merapi via New Selo , merapi tak pernah ingkar janji
Gunung Merapi

Gunung Merapi , siapa yang tidak kenal gunung ini. Gunung yang memiliki tinggi 2930 Mdpl ini berada di dua Provinsi yaitu Jawa Tengah dan Jogjakarta. Gunung Merapi adalah salah satu gunung api yang mempunyai daya rusak yang tinggi dan paling aktif diantara sekian banyak gunung api yang terletak di Indonesia serta merupakan salah satu gunung terganas di dunia. Terakhir kali Merapi memuntahkan lahar panas pada tahun 2010. Selain lahar panas, Merapi juga menghasilkan awan panas atau biasa disebut wedhus gembel oleh warga sekitar. Salah satu dampak yang dihasilkan oleh letusan Merapi yaitu hilangnya Puncak Garuda yang dulunya berdiri tegak di puncak Gunung Merapi. Namun dengan kejadian itu, tak menyurutkan niat para pendaki untuk tetap mengunjungi Gunung Merapi, entah untuk mengobati rindu atau melihat puncak Gunung Merapi yang baru setelah terjadinya letusan.

Meski Gunung Merapi termasuk gunung yang ganas, namun gunung ini tidak pernah sepi dari pendaki. Tiap akhir pekan bisa sampai 100 orang lebih yang melakukan pendakian ke gunung ini. Pendakian gunung Merapi bisa melewati dua jalur utama, yaitu Kinaharjo/Kaliurang dan Selo/Boyolali. Tetapi pada November tahun 1995 jalur pendakian Kaliurang di tutup sementara.

Perjalanan dari Jakarta

Pendakian Gunung Merapi via New Selo , merapi tak pernah ingkar janji
Menunggu Kereta di Stasiun Senen

16 Maret 2018 menjadi tanggal yang saya tunggu-tunggu sudah sejak 3 bulan lalu. Untuk pendakian kali ini, saya bergabung  bersama Komunitas Backpacker (KOPER). Pendakian ini bersifat sharecost (patungan), jadi bisa di pastikan bahwa biaya nya relatif murah. Biaya patungan nya sebesar 330 ribu rupiah sudah termasuk Tiket Kereta Api PP Jakarta – Solo Jebres, Transportasi ke Basecamp, Logistik, dan lain-lain. Dalam pendakian ini, kita berjumlah total 41 orang dengan Lukman Abdul Azis sebagai ketua rombongan perjalanan.

Sebelumnya kami sepakat untuk berkumpul di Stasiun Pasar Senen pada jam 16.00 WIB karena kita akan berangkat ke Solo menggunakan Kereta Brantas pukul 17.00 WIB .  Namun karena waktu itu saya masih bekerja, saya baru bisa tiba di Stasiun Pasar Senen pada pukul 16.30 WIB. Kami segera melakukan check in agar bisa menaruh barang bawaan di atas tempat duduk. 10 menit sebelum kereta berangkat, kami semua sudah duduk manis di masing-masing bangku kereta kelas ekonomi itu. Kereta pun berjalan, dan kita sibuk dengan kegiatan masing-masing, ada yang tertidur, mengobrol dengan orang yang duduk di bangku sebelah, bahkan berkenalan dengan pramusaji cantik yang mondar-mandir menawarkan makanan.

Singkat cerita, pukul 02.47 WIB kereta yang saya naiki tiba di stasiun tujuan akhir, Solo Jebres. Kami segera turun dari kereta dan siap-siap untuk menuju ke Basecamp Gancik sebelum melakukan pendakian. Tiga mobil elf sudah siap menunggu kami di luar stasiun, setelah semua pendaki naik ke dalam mobil, mobil itu segera jalan menuju basecamp Gancik. Pukul 04.30 kami berhenti sejenak di suatu pasar di daerah Selo untuk melaksanakan sholat Subuh serta membeli beberapa logistic yang dibutuhkan selama pendakian. Setelah perjalanan yang melelahkan, akhirnya kami tiba di Basecamp Gancik pukul 06.00. Ada beberapa hal yang kami lakukan selama di basecamp , dari mulai packing ulang isi tas carriel yang akan kita bawa, mandi dan ganti pakaian, tidur, dan tidak lupa untuk sarapan. Rencana nya pukul 09.00 kita akan melakukan pendakian. Namun, manusia hanya bisa berencana, Tuhan berkehendak lain, hujan mulai turun sejak pukul 08.30, sehingga kita harus menunggu hujan reda untuk melanjutkan perjalanan menuju basecamp New Selo. Pukul 10.30 hujan mulai mereda, dan kita akhirnya berangkat menuju basecamp New Selo menggunakan mobil truk.

Pendakian

Pendakian Gunung Merapi via New Selo , merapi tak pernah ingkar janji
Sebelum Pendakian
Pendakian Gunung Merapi via New Selo , merapi tak pernah ingkar janji
Tulisan New Selo ala Hollywood

Ketika kalian ingin mendaki Gunung Merapi melalui New Selo, kalian pasti akan disambut oleh tulisan ala Hollywood yang bertuliskan “New Selo” di basecamp setelah melewati pos untuk mendaftar SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi). Setelah selesai mengurus SIMAKSI, kita memulai pendakian, baru beberapa meter melangkah, kami disambut jalanan beraspal yang menanjak serta ditemani oleh gerimis air hujan. Sepuluh menit berselang, saya sendiri sudah berhenti untuk mengatur nafas karena jujur saja sebelumnya tidak ada latihan persiapan untuk naik gunung ini. Mendaki saat hujan juga merupakan pengalaman pertama saya. Setelah beristirahat 5 menit, saya kembali berjalan dan tiba-tiba hujan deras turun menyertai perjalananku siang itu. Karena hujan menyebabkan perjalanan kami sedikit terganggu, dengan jalur tanah dan bebatuan yang terus menanjak dan tidak ada “bonus” membuat saya sering berhenti untuk mengatur nafas dan langkah selanjutnya. Setelah berjalan 1,5 jam akhirnya saya sampai di Pos Bayangan, di pos itu terdapat 2 pondok kecil untuk singgah namun saat itu ramai sekali pendaki yang sedang berteduh. Saya hanya berhenti 5 menit untuk sekedar minum dan memakan sedikit cemilan.

Pendakian Gunung Merapi via New Selo Merapi tak pernah ingkar janji
Berteduh di Jalur
Pendakian Gunung Merapi via New Selo , merapi tak pernah ingkar janji
Pos Bayangan Gunung Merapi

Masih dalam keadaan hujan, saya melanjutkan perjalanan. Jalan masih menanjak dan berbatu, namun kini mulai menyempit karena adanya akar pohon yang saling tidak beraturan. Saya sering sekali berhenti karena selain harus mengantre dengan pendaki lain untuk bergantian lewat juga untuk mengatur nafas yang makin ngos-ngosan. Pukul 14.00 akhirnya saya tiba di pos 1 atau bisa di sebut Pos Watu Belah karena ada batuan besar yang terbelah di dekat pos itu. Berhenti sekitar 10 menit di pos 1, saya segera melanjutkan perjalanan agar bisa sampai ke tempat nge-camp  sebelum gelap. Perjalanan menuju pos 2 semakin berat, jalan tanah berbatu yang menanjak serta hujan yang belum mau berhenti benar-benar membuat tenaga saya terkuras habis, sepanjang perjalanan rasanya ingin sekali segera sampai di tempat nge-camp. Jalan saya sangat lambat kala itu, sehingga seharusnya untuk menuju pos 2 hanya membutuhkan waktu 1 jam , saya baru tiba di pos 2 menghabiskan 2 jam perjalanan. Sampai di pos 2, saya membuka cemilan serta membagi ke teman pendaki lain yang kebetulan berada di samping saya. Setelah cukup tenaga untuk melanjutkan perjalanan, tidak jauh dari pos 2, kami mendirikan tenda untuk beristirahat. Setelah mengganti pakaian basah dengan yang kering, kami mengeluarkan logistic yang dibeli untuk dimasak sebagai makan malam kami.

Setelah perut terisi, kami bersiap untuk tidur di tenda masing-masing, sambal berdoa mengharap hujan segera berhenti dan cuaca esok pagi cerah. Seperti biasa, saat tidur di gunung itu waktu terasa berjalan lambat sekali, buktinya pagi lama sekali datangnya padahal saya terbangun tiap 2 jam sekali. Malam itu saya tidur berempat dalam satu tenda kapasitas 5 orang. Kondisinya air itu merembes hingga ke dalam tenda karena intensitas hujan yang enggan reda hingga jam 10 malam.  Akan ada cerita seru di hari selanjutnya.

Cerita ini bersambung ke bagian kedua.

Merapi dan Rindu yang Menjadi (Bagian 2)

Indonesia, Travel Story

Mengunjungi Pulau Labengki yang Memikat Hati

Pulau Labengki , ada yang pernah dengar atau mengunjungi tempat itu? Pulau Labengki berada di desa Labengki, Kec. Lasolo, Kab. Konawe Utara , Provinsi Sulawesi Tenggara. Cara untuk menuju ke tempat ini bisa melalui Dermaga Leppe yang berada di kota Kendari, untuk menuju ke dermaga membutuhkan jarak tempuh selama 1 jam perjalanan dari Bandar Udara Haluoleo menggunakan bus. Kemudian dilanjutkan menggunakan perahu motor menuju Pulau Labengki. Inilah beberapa spot yang bisa memikat hati saat kamu kunjungi.

Teluk Lasolo

Teluk Lasolo Menikmati Pulau Labengki yang memikat hati sulawesi tenggara kendari
Teluk Lasolo , Pulau Labengki 

Perjalanan saya di mulai dari Dermaga Leppe menggunakan perahu motor menuju destinasi pertama yang ada di Pulau Labengki, yaitu Teluk Lasolo. Perjalanan menuju kesana kami temput dalam waktu kurang lebih selama 4 jam. Di tengah perjalanan, ombak besar menemani perahu kapal kami yang berisikan sekitar 15 orang. Ada yang tidur, ada yang mendengarkan musik, ada juga yang mabok laut , begitulah reaksi teman-teman di dalam perahu yang ku naiki.

Setelah 2 jam perjalanan di ombang-ambing ombak , akhirnya kami sampai di Teluk Lasolo. Taman Wisata Laut Lasolo ini merupakan wilayah konservasi yang dipelihara oleh BKSDA Sulawesi Tenggara. Begitu tiba di pinggir teluk, saya melihat ada beberapa penunjuk arah. Mata ku langsung tertuju pada tulisan View Raja Ampat. Di benak ku sudah terbayang perpaduan cantic antara gugusan bukit karang dan air laut berwarna biru torquise.

Untuk melihat tempat itu, kita harus menaiki beberapa anak tangga yang sengaja sudah dibuat oleh pemerintah untuk memudahkan para wisatawan dalam menaiki bukit karang. Saya sarankan harus tetap hati-hati ketika menaiki anak tangga nya di karenakan hanya ada pegangan tali untuk naik ke atas. Struktur bukit karang yang tajam juga bisa membuat tangan kamu berdarah apabila tidak memperhatikan langkah kaki. Kami segera menaiki bukit karang itu, sekitar 10 menit kami tiba di puncak bukit karang itu.

Teluk Cinta

Mengapa disebut Teluk Cinta? Jika dilihat dari atas memang Teluk ini berbentuk hati. Memang tak bisa dilhat dari tepi pantainya langsung. Harus disaksikan dari ketinggian, entah mendaki tebing ataupun menggunakan drone. Dari atas tampak lengkungan di tepi pantai yang akhirnya membentuk lambang hati dengan gradasi biru yang mengagumkan. Selain itu, uniknya tempat ini adalah jika kamu menengok ke sebelah kanan maka akan terlihat view Teluk Cinta. Ketika kamu menengok ke arah kiri, kamu akan temukan gugusan bukit-bukit karang eksotis berwarna hijau yang mirip dengan Raja Ampat. Di tempat ini juga tersedia villa yang harganya relatif mahal dan ada juga fasilitas outbound dengan harga 400 ribu rupiah untuk satu orangnya.

teluk cinta menikmati pulau labengki yang memikat hati sulawesi tenggara kendari
Teluk Cinta , Pulau Labengki
View Raja Ampat Menikmati pulau labengki yang memikat hati kendari sulawesi tenggara
View Raja Ampat , Pulau Labengki

Pantai Pasir Panjang

Setelah puas menikmati keindahan alam, mengabadikan momen di kamera. Kami melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya yaitu Pantai Pasir Panjang. Sesuai namanya, pantai ini memiliki dataran pasir yang panjang. Pohon kelapa berjejer rapi di bibir pantai ini. Di tempat ini, kamu bisa melakukan snorkeling , berenang-renang cantik atau berfoto menggunakan floaties  atau sofa air. Selain itu, di sebelah kanan ada tebing yang bisa kamu naiki untuk melihat pemandangan cantik dari atas tebing.

Pulau Labengki Pantai Pasir Panjang Menikmati Pulau Labengki yang memikat hati kendari sulawesi tenggara
Pantai Pasir Panjang, Pulau Labengki

Walaupun tempat ini belum terlalu terkenal seperti Raja Ampat. Namun saya sangat rekomendasikan kamu untuk datang ke tempat ini. Keindahan alam yang masih alami di tempat itu bagai surga tersembunyi di Sulawesi.

Indonesia, Travel Story

Mengunjungi Pulau Sombori, Surga Tersembunyi di Sulawesi

Pulau Sombori Miniatur Raja Ampat di Sulawesi Surga Tersembunyi
Puncak Khayangan 1, Pulau Sombori

Raja Ampat? Pasti kamu sudah sering dengar tempat indah itu. Banyak yang bermimpi untuk bisa pergi kesana, termasuk saya. Namun, rasa penasaran saya akan keinginan untuk pergi ke Raja Ampat terobati dengan mengunjungi miniaturnya yang ada di Sulawesi. Nama tempatnya yaitu Pulau Sombori. Pasti kamu penasarankan bagaimana indahnya miniatur Raja Ampat yang saya kunjungi? Check this out

Pulau Sombori

Ada yang pernah dengar nama tempat ini? Mungkin saat ini masih banyak orang yang belum tahu tempat ini, namun saya ramal suatu saat nanti tempat ini akan jadi wisata mendunia, populer seperti Raja Ampat. Letak Pulau Sombori sebenarnya berada di Morowali, masuk ke dalam Provinsi Sulawesi Tengah, namun lebih dekat dengan dengan Ibukota Sulawesi Tenggara, Kendari. Hal ini menjadikan banyak orang yang menganggap bahwa Pulau Sombori itu berada di Kendari, sehingga banyak yang mencari di google dengan kata kunci Sombori Kendari.

Untuk menuju ke tempat ini, kamu bisa memesan tiket pesawat tujuan Kendari. Yang kemudian disambung menggunakan bus Damri menuju Dermaga Leppe, tempat kapal bersandar yang akan membawa kita mengarungi lautan di Sulawesi. Perjalanan saya di mulai dari Dermaga Leppe di Kota Kendari, dengan menggunakan kapal motor saya menghabiskan waktu sekitar 5 jam untuk mencapai Pulau Sombori. Sepanjang perjalanan saya ditemani ombak yang cukup besar dan air laut berwarna biru turquoise. Untuk melihat miniatur Raja Ampat dapat dilihat dari dua tempat, yaitu Puncak Khayangan 1 dan Puncak Khayangan 2 yang hanya berjarak 10 menit menggunakan perahu motor.

indahnya pulau sombori miniatur raja ampat di Sulawesi
Puncak Khayangan 2 , Pulau Sombori

Hal-hal penting saat kamu ingin naik ke Puncak Khayangan ini adalah memakai sarung tangan tebal dan sandal / sepatu gunung , di karenakan Puncak Khayangan ini merupakan bukit karang alami yang struktur nya tajam jika diinjak ataupun dipegang. Untuk mencapai puncaknya dibutuhkan waktu sekitar 15 menit menanjak dari bawah.

Rumah Nenek

Setelah puas di Puncak Khayangan , kami melanjutkan perjalanan mengunjungi Rumah Nenek. Rumah Nenek ini bisa dikunjungi oleh siapapun loh , karena memang ini merupakan spot wisata unggulan di Pulau Sombori. Mengapa dinamakan Rumah Nenek? Karena memang di rumah ini tinggal seorang nenek dari suku Bajo, namanya Nenek Andong. Jika kamu main ke Rumah Nenek, jangan lupa untuk mencoba nikmati pisang goreng, kue bolu serta kopi khas racikannya. Ada kenikmatan hidup yang tak mampu kamu beli di luar sana saat berada di gubuknya. Beruntungnya kami waktu mengunjungi Rumah Nenek, di sana sedang ada acara, beberapa keluarga dari nenek itu datang mengunjungi. Kami pun sempat untuk diajak makan bersama oleh sang nenek. Sungguh beruntung menjadi nenek karena halaman rumahnya begitu indah sekali.

rumah nenek sombori indahnya pulau sombori miniatur raja ampat di sulawesi
Rumah Nenek Sombori
Suku Bajo di Pulau Sombori indahnya Pulau Sombori miniatur raja ampat di sulawesi
Suku Bajo di Pulau Sombori

Pulau Koko

Destinasi kami selanjutnya adalah Pulau Koko. Dengan bentuk seperti teluk serta hamparan pasir putih di tepinya serasa ingin cepat-cepat untuk mendekat. Apalagi terdapat tebing-tebing cantik yang mengapitnya. Adanya dua bibir pantai di satu pulau ini menjadikan pulau ini istimewa.

Kami tinggal pilih saja mau menyeburkan diri ke bagian yang mana karena dua-duanya sama cantik dan menawan. Mau sekadar bermain air bisa dilakukan di tepi pantai. Jika ingin snorkeling juga bisa. Cukup berenang puluhan meter saja sudah bisa dijumpai terumbu karang serta ikan-ikan yang cantik.

Pulau Koko Sombori indahnya pulau sombori miniatur raja ampat di sulawesi
Pulau Koko Sombori

Setelah melihat semua keindahan nya, kamu yakin tidak ingin langsung pergi kesini? Yuk segera masuk kan tempat ini ke dalam bucketlist kamu. Saya yakin kamu tidak akan kecewa jika datang ke tempat ini. Alam Indonesia memang luar biasa.